Saturday, August 13, 2011

Tentang Karya

Saya selalu punya sebuah mimpi untuk menerbitkan hasil tulisan saya atau mengumpulkan mereka semua dalam bentuk cetak, yang bisa dipegang. Pilihannya adalah mengumpulkan semua tatal dalam blog ini atau mengumpulkan cerpen-cerpen yang sudah usang itu. Ternyata ada banyak sekali post di blog ini sementara kekurangan bahan untuk cerpen apabila mau dikirimkan ke penerbit (total cerpen saya hanya 25 halaman, sementara penerbit meminta minimal 100 halaman. Nah lho).

Setelah sedikit bingung, saya berpikir mungkin saya harus menulis cerpen yang lebih panjang lagi atau menambah jumlahnya. Jadi saya harus menulis. Lalu saya jadi memikirkan satu pertanyaan yang dihadapkan kepada semua penulis: kenapa saya menulis?

Karena saya suka menulis dan saya tidak bisa tidak menulis. Menyalurkan pikiran dan imajinasi ke dalam bentuk tulisan. Apresiasi orang adalah tambahan yang menyenangkan apalai apabila makna dan pesan yang saya mau sampaikan bisa dimengerti dengan jelas. Tapi tidak bisa dipungkiri, apresiasi orang-orang di sekitar saya adalah sumber motivasi utama untuk terus menulis (dan membiarkan orang lain membaca hasil tulisan saya).

Diatas adalah alasan umum, yang akan saya beritahukan kepada semua orang yang bertanya secara langsung. Namun sebenarnya bagi saya menulis itu kegiatan yang sifatnya sakral. Rasanya seperti apabila berdoa hingga khusyuk. Masuk ke dalam sebuah keadaan yang penuh dengan konsentrasi dan kata-kata terlahir begitu saja seperti sudah 'dimasak' sebelumnya hanya menunggu untuk 'dituangkan'. Mungkin sama dengan doa-doa yang sudah dihafal dan dimengerti sejak kecil yang hanya terus mengalir ketika ibadah dijalankan. Saya akan terpaku, sedikit tegang dan merasa luar biasa lega setelah draft pertama selesai. Seperti sehabis mengakui sebuah dosa yang besar. Draft selanjutnya biasanya hanya bersifat teknis, jiwa yang saya lahirkan akan tetap bersemayam di dalam tulisan itu.

Maka, setiap tulisan adalah karya--memiliki makna dari keberadaannya. Dia ada karena dia bermakna.

Mungkin kamu tidak mengerti apa yang saya maksud dan tidak, saya tidak memakai majas apa pun saat ini (termasuk hiperbola).

Saya tidak bisa bilang bahwa lalu memakaikan harga pada karya saya itu salah. Saya belajar ekonomi, saya tahu bagaimana interaksi terjadi di dalam pasar dan bahwa pasar itu sendiri adalah ujung proses distribusi. Kegiatan paling penting di dalam sebuah ekonomi. Nyatanya saya tetap ingin karya-karya saya berinteraksi dengan sebanyak mungkin pembaca.

Walaupun harganya 0.

Monday, August 08, 2011

Akar

Mik menatap kedua ibu jarinya yang saling bertautan mencoba mengendalikan kekalutan yang bergemuruh di dalam kepalanya. Ruangan suci yang cukup besar itu lengang, hanya ada dua orang lagi sebelum giliran Mik. Sewaktu kecil Mik selalu membayangkan ‘pengakuan’ sebagai ‘pelepasan’ karena ia selalu merasa lega setelah melakukannya. Bagi Mik kecil ruang kecil yang akan ia masuki itu terasa sesak, terlalu banyak dosa yang dilepaskan. Namun alih-alih menguap dosa-dosa itu menempel dan melapuk bersama dinding tua tersebut. Tapi itu dulu, kini imajinasi tidak lagi memiliki ruang khusus di kepalanya. Mik sendiri tidak mengerti kenapa ia ada di tempat ini, ia masih memandangi kedua ibu jarinya yang saling bertautan. Sugesti. Mungkin Mik butuh sugesti. Tempat ini menimbulkan sugesti yang sangat kuat.

Kepercayaan selalu menimbulkan sugesti. Kadang menguatkan, kadang menggoyahkan.



potongan dari sebuah cerpen dengan judul yang sama :)

Sunday, May 22, 2011

Hari itu biru.
Laut yang damai, langit yang terang, awan yang menggantung tanggung. Biru yang damai. Lalu ada senyum, yang tidak henti-henti. Seperti senyum seharusnya; tak pernah habis. Keberadaan menjadi intinya. Isi pembicaraan hanya menjadi pelengkap yang mengisi jeda waktu. Walau sebenarnya tak perlu ada kata yang terucap.

Hari itu damai.

Damai yang biru.
Pada saat hati terpana, nafas tertahan dan mata tertambat. Hanya ada satu yang terpusat di tengah sebuah ruang ramai. Seolah tatapan hanyalah satu-satunya cara untuk menyampaikan rasa. Tatapan itu pun rentan karena seketika ada yang bergejolak pada saat mereka bertemu. Singkat, hampir semu. Seburat merah jambu.

Jatuh.