Pages

Tuesday, January 12, 2010

kita

Kebersamaan ini rasanya seperti nafas.
Tidak pernah sedetik pun aku terpikir untuk mengakhirinya karena konyol apabila mengakhiri sebuah nafas. Kecuali Yang Diatas sudah menentukan akhir bagi nafas itu. Tidak ada yang istimewa atau diistimewakan secara khusus dari sebuah nafas, tapi dia suatu kebutuhan yang paling dasar. Esensial. Substansial. Apalah kau menyebutnya, kebersamaan ini bergulir seiring waktu, seiring kita bernafas.

Kamu.
Kamu satu-satunya manusia yang tak pernah bisa aku jabarkan, aku selalu gagal menganalogikan dirimu. Kadang aku merasa kamu itu bintang, matahari, laut, awan... secara tidak sadar aku selalu memposisikan dirimu sebagai sesuatu yang terindah, yang paling kusukai. Aku berkali-kali berputar-putar di kebun ini, mencari analogi yang paling tepat. Tapi lalu aku memutuskan bahwa kamu adalah...

kamu.

sesuatu yang mendasar, suatu perwujudan dari rasa, suatu esensi yang hanya dapat diwakilkan oleh dirimu sendiri. Entah apa rasanya berhenti bernafas.

Maaf.
Aku tahu seribu kata maaf pun tidak sebanding dengan setetes air yang mengalir tadi. Sangat buruk, aku buruk.

No comments: