Pages

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, January 01, 2010

Mirasih

Kotak itu masih berada di ujung kamarnya. Sedikit berdebu dan semakin berkarat. Mirasih tertegun lama menatapi kotak tersebut, seakan-akan waspada pada gerakan sesingkat apa pun. Namun kotak kaleng itu benda mati, ia tak akan bergerak. Mirasih menghela nafas panjang sambil mengangkat kotak itu lalu ditaruh di atas pangkuannya. Tidak ada yang istimewa pada kotak itu; terbuat dari bekas kaleng biskuit, sudah cukup berkarat, dan sedkit berdebu. Sekali lagi Mirasih menarik nafas, meraba permukaan kotak tersebut. Seperti berharap ada keajaiban yang keluar dari dalamnya.



...

doakan cerita ini selesai.

Friday, August 08, 2008

Kucing Jalan

Entah sejak kapan kucing itu tergeletak disana mungkin sudah selama yang kuingat. Ribuan kali aku melalui jalan itu dan ribuan kali pula kucing itu setia disana. Ia akan menatap beku pejalan kaki yang melewatinya dengan sorot setajam pisau kristal, hingga apa yang ia alami pada masa-masa akhirnya hanya menjadi misteri pribadi para pejalan kaki yang melewatinya.

Lalu akan ada saat dimana beberapa manusia kecil dengan jiwa besar akan mengiba padanya lalu mencoba mengisyaratkan tunas-tunas nurani mereka kepada sekumpulan orang lalu lalang, tapi orang-orang yang lebih besar hanya lekas-lekas bergegas dari tempat itu. Menghindari apa yang mereka lihat dan akan terjadi apabila terlalu lama dilihat. Manusia-manusia kecil itu pun akhirnya melenggang pergi meninggalkan ibanya pada sang kucing dan tumbuh menjadi bagian dari orang-orang gegas tadi. Yang terkontaminasi dengan baik akan menjadi bagian dari dalang-dalang nomor satu teror kota sementara yang tidak terlalu baik akan menjadi bagian dari kesatuan naas yang hanya dapat membuat hitamnya kota semakin pelak.

versi lengkap


--
cerita ini ditulis berdasarkan ramuan humanisme yang membuih

Tuesday, June 03, 2008

Labirata

2007
Fokus. Fokus abi. Jangan sampai lengah, jangan sampai gagal. Sudah terlalu banyak yang kamu korbankan untuk mendapatkan kesempatan ini. Segala waktu, tenaga dan pikiran yang telah kamu curahkan untuk melewati berbagai tempaan yang berat dan melelahkan. Semuanya dipertaruhkan untuk kesempatan ini. Semuanya. Termasuk nyawamu termasuk dia. tidak boleh gagal. Kalau gagal, maaf pun tak akan tersisa bagimu.

Abi dapat merasakan ketegangan yang menyelimuti sekelilingnya. Berbagai pasang mata yang menatapnya dengan tajam. Intens. Beberapa berisi harapan sisanya berisi keirian. Sesaat rasanya gawang di depan terlihat sangat megah. Dengan pendaran warna putih yang mendominasi dan jala yang baru saja diganti.

Abi mengerakan badannya ia mencondongkan dadanya ke kanan. Ia sudah memutuskan untuk mengelabui Sakti sedari awal. Abi dapat mendengar suara nafas tertahan dari teman-teman timnya. Abi menghitung dalam diam. Satu, dua,... tiga! Bola terhempas ke tepi kiri gawang. Sorakan memenuhi stadion Senayan. Walau tidak terlalu banyak orang berada di tempat itu tapi Abi sudah merasa seperti memenangkan World Cup. Namun lalu cahaya seperti memendar di sekelilingnya dan Abi kehilangan kesadarannya.

Pak Gin, salah satu pelatih senior di camp itu segera berlari ke arah Abi dan menopangnya tepat beberapa detik sebelum kepala Abi membentur tanah. Segera para petugas P3K menghambur ke lapangan dan menggontong Abi ke ruang kesehatan. Beberapa peserta camp lainnya juga ikut ke ruang kesehatan mencemaskan Abi. Fatan ikut pula dalam rombongan yang hectic itu. Dasar nekad !

Wednesday, February 15, 2006

Shanista

by. Kanya Stira

Sejak pagi SMA Sandarina dilanda gosip yang menggemparkan. Tidak aneh sebenarnya melihat gosip begitu cepat beredar di sekolah itu, mudah saja, seseorang yang mengetahuinya akan menceritakannya pada temannya dengan embel-embel ‘Tapi ini rahasia, lho. Jangan bilang siapa-siapa, ya?’ dan temannya itu akan menambahkan sedikit ‘bumbu’ ke dalamnya lalu akan menceritakannya ke temannya yang lain dan berkata ‘Tapi ini rahasia, lho.’ Dan begitulah seterusnya sampai akhirnya tak sampai seminggu gosip itu telah menjadi rahasia umum. tapi tidak kali ini, walaupun sama-sama berjudul ‘gosip’ tapi sepertinya kali ini semua orang terlalu malas berbasa-basi untuk menceritakannya dengan embel-embel ‘Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya.’ atau ‘Ini rahasia, lho.’ Karena berita kali ini bukan berita sembarangan.

‘Serius deh! 2rius bahkan! Fostine udah putus sama Davi!’ kata Risa semangat kepada Shasta yang ditanggapi dengan kibasan tangan tanda ia tak peduli. Shasta sedang mengerjakan-menyontek-tepatnya pr matematika pagi ini.

‘Tau dari mana?’ tanya Dira sambil menarik kursi di depan Shasta yang masih konsentrasi dengan pr matematikannya. Dia lebih memilih utnuk mengerjakan prnya daripada mendengarkan gosip.

‘Kemaren ada yang ngeliat Fostine berantem sama Davi di Blurry Burger.’ Sahut Tina menjelaskan.

‘ada juga yang bilang kalo Davi selingkuh sama cewek lain.’ Bima ikutan nimbrung ngegosip sama cewek-cewek juga. Tak berapa lama beberapa cowok datang dan ikutan mendengarkan.

‘Ya ampun, kok bisa ya? Padahal mereka kan best couple di sekolah ini. Yang cewek cantik, pinter, populer dan cowoknya cakep, kapten sepak bola lagi!’ tanya Tina lebih ditujukan pada dirinya sendiri. Di SMA Sandarina berbeda dengan sekolah-sekolah lain di Jakarta, di sekolah ini sepak bola adalah olah raga ‘keren’ lebih keren dibandingkan dengan basket ataupun cabang lainnya. Dan tidak semua orang dengan mudah menjadi anggotanya.

‘HAH? SERIUS LO?’

semuanya terlonjak kaget. Tak ada yang menyadari kehadiran Farell rupanya.

‘Fostine sama Davi putus?’ tanyanya. Walaupun wajahnya menyiratkan penyesalan namun semua yang mendengar nadanya tahu bahwa ia senang mendengar berita itu. Sesaat Shasta terdiam lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan berbagai pikiran yang berkecambuk di kepalanya.


‘Fostine!’ panggil Farel seusai pulang sekolah.

Yang dipanggil menoleh pelan. Semua yang melihatnya pasti langsung tau bahwa ia sedang mengalami depresi. Frustasi.

‘Ya?’ jawab Fostine. Pelan dan gamang.

‘Gimana kalo kita pulang bareng?’ tanya Farel tersenyum penuh harapan. Ia sedikit kecewa melihat keadaan dan tanggapan Fostine.

‘Oh...’ ucap Fostine. ‘Makasih. Tapi sori banget hari ini gw udah janji bakalan pulang bareng Chicha.’

‘Oh, kalo gitu-‘

‘Sori banget ya, Rel.’ Kata Fostine lagi sambil mengatupkan kedua tangan di depan mukanya. ‘Gw duluan, ya.’ Katanya kemudian sambil berlalu.

‘Farel!’ panggil Shasta sambil berlari mendekat dari arah koridor sekolah. ‘Kok lo ninggalin gw, sih. Jahat amat!’

‘Ninggalin...apa?-’ tanya Farel nga fokus, tatapannya masih mengikuti punggung Fostine.

Shasta terdiam. Bola matanya mengikuti arah pandang Farell dan mengerti keadaannya sekarang, entah mengapa di dalam hatinya terasa sebersit kekhawatiran.

‘Yuk, balik.’ Ajak Farel. Dan Shasta tahu, saat ini Farel sedang tidak ingin membicarakan apa pun. Toh, nantinya juga ia akan menceritakannya kepada Shasta, setidaknya itulah yang terjadi sejak mereka kecil, sejak mereka bertetangga. Tak banyak yang tahu ataupun menyangka bahwa Afarello Cahyadi mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan Shanista Bhatari karena mereka telah berteman sejak kecil. Tina yang kemana-mana ngaku sebagai sahabatnya Shasta saja tidak mengetahui hal itu bahkan dia tidak mengetahui kalau sejak kelas 2 ini Shasta pulang-pergi ke sekolah nebeng Jazz hitam Farell. Begitu juga yang lainnya, instead of mereka mencurigai hubungan antara Shasta dan Farell mereka malah curiga kalau-kalau Shasta tidak mengenal Farell karena Shasta bukan anak yang mudah untuk memulai suatu pembicaraan dan mengadaptasi diri dengan lingkungan barunya. Seperti yang terjadi di awal Agustus lalu ketika mereka masuk kelas 2.

‘Ta, lo tau yang namanya Arell, nga?’ tanya Tina sambil terus berusaha fokus menjalankan mobilnya. Hari ini Shasta dan Tina memang sudah janjian untuk pergi ke LaffWalk sepulang sekolah sekedar untuk melewatkan weekend mereka di Caff’a’Latte coffeeshop favorit mereka lalu menemani Shasta mancari buku Harry Potter yang terbaru di Dreamwurld Bookstore.

‘Arell? Anak Sandarina?’ Shasta bertanya balik sambil memakai sabuk pengamannya.

‘Tuh, gw udah curiga lo nga tau, lo males banget sih kalo disuruh gaul. Arell, temen sekelas kita waktu kelas satu, kok. Yang tiap kali dimarahin ma Pak Toni gara-gara males potong rambut.’

Arell? Bukannya yang hobi disemprot ma Pak Toni itu Farell? Jangan-jangan emang....

‘Maksud lo Farell?’ tanya Shasta.

‘Ah, iya! Anak-anak sekelas pada panggil Arell, sih.’ Tina geli sendiri.
‘Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya.’

‘Lo tau sendiri, gw emangnya bisa bilang ke siapa?’ jawab Shasta enteng. Memang benar kok, dia tidak tertarik pada hal-hal seperti ini (ngomongin orang lain). Dia lebih tertarik untuk nongkrong di Dreamwurld berjam-jam daripada melewatkan harinya bergosip ria sampai kuping dan mulut panas.

‘Ah, iya juga. Katanya si Arell-Arell itu-‘

‘Farell.’ Koreksi Shasta.

‘Iya Miss Melankoli, maksud gw Farell-atau-siapalah, katanya sekarang lagi excited banget ngedeketin Fostine, tapi kayaknya Fostine udah nyantol sama Davi, deh.’ Cerita Tina.

‘Oh.’ Komen Shasta. Selain dia tidak terlalu berminat, toh dia juga yang pertama kali didatangi dan diceritakan oleh Farell bahwa ia ditolak mentah-mentah oleh Fostine, Shasta jugalah yang pertama menghiburnya, dan Shasta jugalah yang pertama tahu Farell suka Fostine. Maka saat ini Shasta tidak memaksa Farell untuk menceritakan masalahnya, nanti kalo udah waktunya juga Farell bakal cerita.



‘Shasta!!!’ panggil Farell siang berikutnya setelah kemarin Farell mengantarnya sampai rumah dengan berdiam diri di mobil, Shasta tidak mengobrol dengannya ataupun bertemu dengannya. Tapi hari-hari selanjutnya Farell justru menceritakan hubungannya dengan Fostine yang semakin dekat. Hampir tiap waktu dia berada di rumah Shasta.

‘Ya?’ jawab Shasta sedikit heran.

‘Sori banget, ya. Hari ini kayaknya gw nga bisa nganterin lo.’ Katanya meminta maaf namun dengan wajah berseri-seri.
Pasti, Fostine...
Deg!
Perasaan itu muncul lagi...

‘Pasti lo... Umm, Fostine?’ tanya Shasta dengan nada yang sedikit berharap. Berharap Farell mengatakan ‘tidak’.

‘Hmm, tau aja lo.’ Katanya dengan mata berbinar. ‘Ya, udah deh. Gw duluan, sekali lagi sori banget.’ Katanya sambil berlalu.

‘Iya, nga apa-apa.’ Gumam Shasta pelan sambil tersenyum paksa berusaha menutupi kegalauan hatinya.

Akhirnya hari itu Shasta pulang naik bus umum sampai di rumah dengan selamat, setelah sebelumnya muter-muter nyari bus jurusan rumahnya sampai 2 jam karena ia lupa membawa uang dan di rumah tidak ada orang.

Hari-hari selanjutnya juga selalu seperti itu.

Farell sekarang sibuk dengan Fostine yang sepertinya sudah mulai membuka hatinya untuk ‘the other boy’ dan masalahnya Farelllah yang dimaksud si ‘the other boy’ itu. Wait? Did I say ‘masalah’? Batin Shasta. Kenapa juga itu harus menjadi sebuah masalah buat gw?

Sampai di sabtu sore yang seharusnya dilewati Shasta dengan tenang. Seperti biasa Shasta menjalankan ritual sabtunya : pergi ke Dreamwurld Bookstore dan membenamkan dirinya membaca sambil mendengarkan musik.

Tapi belum sampai di Dreamwurld Bookstrore, di depan Boxylivv, distro yang cukup terkenal di Laffwalk. Shasta melihat Fostine sedang dirangkul oleh seorang cowok yang secara jujur dapat dibilang keren dan mereka bercanda, terlihat sangat bahagia. tiba-tiba Shasta merasa mukanya memerah dan ia berjalan mendekati pasangan yang sedang berbahagia itu.
Fostine?? Bukannya dia sekarang lagi deket sama Farell? Dasar cewek nga bener!
‘Fostine?’ tanya Shasta tertahan, berusaha menguasai dirinya.
‘Eh? Shasta? Lagi ngapain di sini?’ katanya sambil melepaskan rangkulan cowok itu.
‘Bukan urusan lo.’ Jawab Shasta angkuh. ‘Sekarang gw nga heran kenapa Davi bisa sampe selingkuh. Karena lo berdua sama, sama muna-nya. Di depan orang lain pasang tampang sok sedih, sok fragile. Padahal lo berdua nga ada bedanya! harusnya lo malu.’ Kata Shasta tajam. Sesuatu yang tak bisa ditahannya bila ia sedang marah, mungkin emosinya tidak meledak-ledak seperti Tina tapi semuanya keluar dalam bentuk yang lebih menyakitkan.

‘Heh! Kalo ngomong jangan sembarangan lo!!’ sahut cowok yang bersama Fostine.
Shasta tidak memperdulikannya. Tidak peduli pada perbuatannya yang tidak beralasan apa urusannya kalo Fostine punya cowok lain? Toh, dia nga jadian sama Davi, tidak peduli pada mata Fostine yang mulai berkaca-kaca dan tidak peduli pada cowok yang marah dan berteriak memaki yang sedang ditahan Fostine. Sementara Shasta sendiri merasa ingin menangis dan berlalu dari hadapan kedua ‘pasangan yang sedang berbahagia itu’.



Shasta benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini. Yang ia tahu ia hanya lelah, entah lelah atas alasan apa. Ia merasa bersalah sekali pada Fostine dan ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri. kenapa gw jadi kayak gitu? Sok ngehakimin orang lain? Padahal gw juga nga ada bedanya sama mereka... egois! Gw harus minta maaf sama Fostine!
Sudah beberapa hari ini Shasta juga tidak bertemu dengan Farell. Entah kenapa Shasta mendapat kesan Farell mengindari dirinya.

Sampai suatu siang saat istirahat...

‘Shasta.’ Panggil Fostine.

‘Fostine?’ Shasta terkejut. Rencananya hari inilah ia akan meminta maaf pada Fostine. Tapi kok malah?

‘Gw mau bicara sama lo.’ Ucap Fostine sambil tersenyum. ‘Ikut gw.’ Katanya kemudian sambil menarik tangan Shasta.
Fostine mengajak mereka ke taman belakang pembatas antara SMA dan SMP Sandarina. Di sudut taman itu terlihat seorang cowok sedang duduk tercenung di salah satu kursi taman.

Oh my! Itukan cowok yang waktu itu ketemu di LaffWalk! Gimana, nih? Pikir Shasta panik.

‘Nga usah takut, dia orangnya baik kok.’ Kata Fostine tenang seakan dapat membaca pikiran Shasta. Shasta hanya dapat senyum terpaksa dan berusaha menengakan dirinya sendiri selama ini dia selalu berhasil menutupi hatinya kenapa kali ini harus tidak bisa? Tantang Shasta pada dirinya sendiri.

‘Abel!’ panggil Fostine. Sebenarnya tanpa perlu dipanggil pun seharusnya cowok ini sudah menyadari kedatangan Fostine dan Shasta.

‘Ni anaknya udah gw bawa, ketua OSIS! Mau diapain terserah!’ kata Fostine kemudian dengan mimik yang dibuat segarang mungkin dan membuat Shasta bingung harus tertawa atau takut.
Tunggu? Ketua OSIS?! Ya, ampun! Ini kan idola semua orang itu? ketua OSIS yang serba bisa, cakep lagi. Orang pop di sekolah, bahkan lebih dari Davi, kan?!
-- Dia? Maksud gw... dia pacar Fostine yang baru?!

‘Jadi ini! anak yang teriak-teriak di Laffwalk sampe bikin ade gw nangis, hah?!’ katanya garang pada Shasta.

Kali ini Shasta tidak perlu berbingungria lagi karena ia langsung memutuskan dia takut beneran pada cowok ini. tak terasa mukanya memerah, badannya memanas, dan air mata jatuh dari matanya. Ia terisak.

‘Lho? Hei! Kok nangis, sih?’ kata Abel panik. ‘ gw kan nga bermaksud bikin lo—sorry!’

‘Fos—tine. Maaf..in, hiks, gw...’ ucap Shasta dalam isakannya.

‘Tine, kok lo diem aja sih? Gimana, nih?’ Abel masih panik. ‘Tisu,tisu.. bawa tisu nga’ tanyanya kemudian pada Fostine. Namun Fostine tidak memperdulikannya. Hhehehehe... ni cowok lucu juga, mirip kayak Farell. Katanya ketua OSIS yang cool tapi kok panikan gini.

‘Iya, sebenernya yang salah gw kok. Gw udah ngasih harapan yang nga-nga ke Farell. Gw ngerti kok kalo lo marah sama gw.’ Jelas Fostine sambil menunduk.

‘Iya,iya gw tau lo berdua salah, tapi—‘ tapi kata-kata Abel terpotong.

‘Gw... gw kasian sama Farell. Selama ini dia gigih banget. Gw kira kalo gw deket sama dia gw bisa nerima dia. Tapi ternyata...’ Fostine menarik napas.
Abel terdiam. Shasta masih terisak.

‘Tapi, ternyata dia suka sama cewek lain...’ lanjutnya.

APA?!

‘Maksud-nya?’ tanya Shasta pelan, terlalu kaget bahkan untuk diekspresikan.

‘Iya, semakin gw deket sama dia, semakin gw sadar kalo yang dia suka itu bukan gw tapi cewek lain. Yang selalu dia inget, yang selalu dia ceritain, dan yang selalu dia perhatikan. Lebih dari dia inget, cerita, atau perhatian ke gw.’

‘Tapi—‘

‘Iya, gw rasa dia sendiri pun belom sadar. Padahal gw udah ngasih hintnya ke dia.’ Kata Fostine sambil tersenyum simpul. ‘Padahal, jujur. Gw juga lumayan tertarik sama dia. Tapi, kayaknya ini bukan yang terbaik buat kita semua kalo dia jadian sama gw.’

Shasta terdiam. Tubuhnya lemas. Farell suka pada cewek lain? Sementara dia sudah sampai menghina Fostine dan cowoknya yang super cakep ini di depan umum? aduh! Malunya!

Shasta berhenti menagis. Semuanya masih terdiam.

‘Yang pasti...’ Abel akhirnya membuka mulut. ‘gw nga pacaran sama Fostine kayak yang elo kira.’

Fostine tertawa sementara Shasta semakin bingung.

‘Shas, sama kayak lo and Farell. Kita ini juga Cuma teman sejak kecil, Abel itu udah gw anggep kakak gw.’

‘Iya, lo salah ngerti! ‘Makanya jangan suka bikin sugesti yang ngga-ngga!’ tambah Abel.

‘Tapi—bukannya...?’ Shasta benar-benar bingung. Oh, pantes aja tadi Fostine bilang dia udah lumayan tertarik sama Farell. Oh! Silly me!

Tapi lalu ketiganya tertawa.

‘Hei, kita udah nungguin lo dari tadi.’ Kata Fostine sambil melihat ke arah belakang Shasta. Shasta mengikuti arah pandang Fostine.

Deg! Mukanya memerah dan sekali lagi tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
Farell berdiri di pintu masuk taman dan berjalan ke arah mereka.
Abel berjalan mendekati Farell lalu mereka berdiri menjauh dan seperti membicarakan sesuatu. Shasta terdiam selain masih berdebar-debar ia juga masih belum terlalu bisa menguasai pikirannya. Sementara Fostine tersenyum kecil.
Abel dan Farell berjalan mendekat berdua. ‘Tine, bentaran rapat mulai, nih!’ sahut Abel memanggil Fostine.

‘Ah, iya nih, udah jam 3. Kita duluan ya.’ Jawab Fostine sambil pamit kepada Farell dan Shasta, keduanya hanya tersenyum lalu menganggukan kepala.

‘Gimana kalo kita duduk di sana.’ Ajak Farell seraya mengarahkan telunjuknya ke bangku kecil taman. Shasta hanya menangguk pelan.

Selama beberapa saat keduanya terdiam, seperti saling bingung memikirkan keadaan ini sampai akhirnya Farell membuka percakapan.

‘Ta. Maafin gw ya.’ Katanya sambil memandang Shasta sungguh-sungguh.
Shasta hanya terdiam. Maaf? Maaf untuk apa?

‘Gw belakangan ini ngejauhin lo...-hmm, Fostine marahin gw, Ta.’ Katanya sambil tertawa pelan.

Shasta yang sedari tadi menundukan kepalanya melihat Farell.
‘Dia bilang bukan dia cewek yang sebenernya gw sayang. Katanya, gw Cuma terobsesi aja sama dia.’ Lanjut Farell.
Terobsesi? Fostine?

‘Makanya, belakangan ini gw merenung. Memikirkan kata-kata dia.’ Ucap Farell pelan. ‘Dan, gw sadar yang dia bilang itu bener. Gw ternyata nga sesayang yang gw pikir ke dia. Buktinya waktu denger dia patah hati sama Davi... gw malah seneng, bukannya ikut sedih. Dan, karena itu gw jadi ngelupain seseorang yang selama ini selalu membantu gw, mau dengerin gw, mau menghibur gw... tanpa pernah sekalipun gw peduli sama perasaannya. Belakangan, gw bahkan nga sadar cuma mau bikin cewek ini cemburu dengan cerita tentang hubungan gw sama Fostine. Gw.. parah.’ Lanjutnya.

Siapa lagi? Apakah harus sekali lagi merasa hancur setelah merelakan Farell untuk Fostine? Rasanya Shasta tidak kuat.

‘Dan... orang itu adalah...’ Farell menundukan kepalanya. ‘kamu, Ta.’

Shasta bengong. Tunggu! Tadi dia bilang orang itu adalah... gw?

‘Kok diem aja sih, Ta.’ Kata Farell tidak sabar setelah berdiam beebrapa saat dan tidak mendapat respon apapun dari Shasta. Shasta melihat ke arah Farell jantungnya berdegup cepat dan ia menemukan wajah Farell yang juga memerah. ‘Kamu sadar nga, sih? Aku lagi nembak kamu.’

Shasta tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Walaupun dadanya masih berdebar-debar tapi ia juga merasakan kelegaan yang luar biasa seperti ada batu besar yang keluar dari saluran pernafasannya.

‘Kamu... mau jadi orang yang selalu ada di sisi aku? Jadi orang yang selalu mendukung aku, jadi... ehm, pacarku?’ tanya Farell sungguh-sungguh masih dengan wajah kemerahan.

Shasta benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin sekali berteriak ‘IYA!!! GW MAU!!!’ tapi rasanya lidahnya kelu. Dan yang terlihat adalah muka merah dan shock di mata Farell.

‘Ah, sorry.’ Katanya kemudian sambil berdiri. ‘Gw... gw tau ini terlalu cepat. Tapi, gw udah nga bisa lagi nahan perasaan ini. tapi-tapi gw ngerti kalo lo nga punya perasaan yang sama kayak gw, gw...’ Farell salah tingkah lalu berlalu dari tempat itu.

Shasta yang tadinya speechless seperti tersadar, dan panik. Lalu tanpa berpikir lagi berlari menyusul Farell.

‘Farell!!’ teriaknya. Farell segera menoleh ke arah Shasta.
Tanpa sadar Shasta menangis. Farell panik.

‘Lho? Eh, kok nangis sih?’ katanya bingung. ‘Jangan nanngis, donk.’ Ucapnya sambil memeluk Shasta. Entah ada dorongan apa di dalam pikirannya yang membuatnya ingin merengkuh Shasta. Shasta terkejut tapi masih belum bisa menghentikan isakannya ia juga mendengar degupan jantung Farell yang kurang lebih sama sepertinya.

‘Jahat.’ Katanya sambil memukul dada Farell pelan di dalam pelukan Farell.

Farell terdiam. Ia tak tahu harus mengatakan apa, ini semua salah gw, nga heran dia kesel sama gw! Sesalnya dalam hati sambil terus memeluk dan mulai mengelus rambut Shasta.

‘Sebenernya, waktu kamu ngeliat Fostine dan Abel keluar dari Boxylivv aku juga baru ketemu sama mereka di Caff’a’Latte. Fostine marah sama aku. Katanya aku nga sadar kalo di sekitar aku ada seseorang yang perhatian banget sama aku. Apalagi waktu denger cerita di LaffWalk dari Abel, aku jadi makin sadar kalo... aku kangen banget sama kamu. Jadi, belakangan perasaan aku nga karuan kalo bertemu, atau melihat kamu. Aku jadi bingung sendiri. harus bersikap gimana di depan kamu. Kamu nga pernah memperlihatkan ekspresi kamu dengan jelas, sih. Aku kan jadi bingung sama perasaan kamu ke aku. Tapi, Fostine menyarankan aku cepat bilang tentang perasaan ini sebelum kamu—‘ Farell terdiam.

‘Sebelum apa?’ tanya Shasta.

‘Sebelum kamu digaet cowok lain, jelas aku jadi panik.’ Lanjut Farell dengan nada lucu.

Shasta tersenyum dalam pelukan Farell. Iya juga ya, pikirnya. Selama ini ia tidak terlalu suka bergaul dengan orang lain dan membuka dirinya hanya pada buku mungkin inilah yang membentuknya tidak dapat mengeluarkan perasaan hatinya secara blak-blakan di depan semua orang.

‘Farell, selama ini gw mau dengerin cerita lo sampai berjam-jam tentang Fostine, Mau repot-repot ngebantuin lo juga karena...’ Kata Shasta setelah dapat menghentikan isakannya. ‘Karena gw juga sayang banget sama lo.’

Farell speechless ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan dan menarik pundak Fostine dari dalam pelukannya. Sesaat ia hanya dapat memperhatikan Fostine seperti mencari kebenaran dan harapan dari kedua bola mata Fostine.

‘Kamu... serius?’ tanyanya meyakinkan. ‘Kamu, tau kan kamu lagi ngomong apa, lagi ngomong ke siapa?’

Shasta tertawa. Bahagia. ‘Iya, aku tahu aku lagi ngomong sama Afarello Cahyadi. Dan, bilang sama dia kalo... aku juga sayang sama dia.’ Lanjutnya sambil mengerling nakal kepada Farell. Ia sudah memutuskan untuk lebih membuka dirinya dan mungkin ia dapat memulainya bersama Farell.

Farell tersenyum. Membuat lesung pipitnya terlihat makin jelas.

‘Maafin aku, ya.’ Ucapnya lembut sambil menarik Fostine ke dalam pelukannya lagi. Yang dimintai maaf menjawab dengan menganggukan kepalanya. ‘Sejak deket sama Fostine aku baru sadar kalo perasaan aku sama dia sebatas sahabat aja.’

Shasta tersenyum. Mengeratkan pelukannya.

--
cerita ini dimuat di Story Of The Month versi blog Sitta Karina Maret 2006

Wednesday, September 28, 2005

Fostine

By. Kanya Stira


'Mau ngomongin apa, sih? Kok, kayaknya penting banget?' Tanya Fostine pada Viena sambil menarik salah satu kursi kantin lalu mendudukinya.

'Bang, baksonya 2, ya. Pake sambel yang banyak.'

'Iya, Non.'

'Gini, tine.' Kata Viena memulai percakapan setelah bakso yang mereka pesan diantar. Fostine tidak menjawab.

'Kemaren pas gw lagi jalan sama anak-anak ke LaffWalk nga sengaja gw ngeliat Davi jalan sama cewek.' Viena terdiam sebentar, berusaha menangkap bakso bandel yang sedari tadi tidak mau ditusuk oleh garpunya. 'Tu cewek cantik banget, Tine.'

'So?'

'Kok, so sih, Tine? Kok, lo nga marah, sih? Udah wajib hukumnya lo marah ke cowok lo itu.'

'Lha, emangnya udah pasti banget kalo Davi itu selingkuh gitu dari gw? Siapa tau tu cewek sodaranya dia, atau siapanya gitu?' jawab Fostine tenang, sambil menuangkan lebih banyak lagi sambal ke dalam mangkuk baksonya.

'Nga mungkin, Tine. Kemaren mereka jalannya mesra banget. Davi merangkul cewek itu, udah gitu beberapa kali cewek itu cium Davi. Tine! Wake up! Sampe kapan, sih. Loe mau dibohongin terus sama Davi?? Ini udah kejadian yang ke 4 setelah lo sama dia resmi jadian.'

'Gw percaya sama Davi. Dia nga mungkin ngelakuin hal kayak gitu, I mean, selingkuh. Seperti yang loe pikir ini. Gw sayang dia dan gw butuh dia. Makanya, please, Vi! Jangan ngomong kayak gitu lagi tentang Davi.'

'Tine... Lo, lo kenapa, sih? Kok, lo jadi kayak mendewakan Davi gitu ? Sejak lo jadian sama Davi, lo nga pernah lagi ngumpul bareng anak-anak, lo jadi kayak orang lain bukan lagi Calista Fostine Gunawarman, lo jarang ketawa, lo jadi kayak jauhin gw, Shelly, dan Dian, bisa makan bareng di kantin kayak gini aja kayaknya susah banget buat lo, mesti minta ijin segala ke Davi. Lo tau nga, sih. Semua orang kangen sama lo, apalagi gw...' Mata Viena berkaca-kaca. Sambil menaruh selembar uang limaribuan di meja Viena berdiri, lalu berlari meninggalkan Fostine yang masih termangu di tempat duduknya, entah terkejut atau tersadar.

Apakah iya, Davi...

***

Hari ini Fostine memutuskan untuk pergi ke BlurryBurger, salah satu restoran fastfood favorit Fostine yang ada di pusat pertokoan LaffWalk. Ia memutuskan untuk pergi sendiri, tanpa mengajak siapapun. Ia ingin menenangkan hatinya, Fostine tak ingin mempercayai perkataan teman-temannya. Fostine percaya Davi.

Sejak jadian dengan Davi Fostine hampir-hampir tidak punya waktu lagi untuk dirinya sendiri. Setiap hari ia harus membuat tugas-tugas sekolahnya, belum lagi tugas-tugas sekolah Davi yang harus ia kerjakan karena si pemilik tugas sibuk berlatih Karate, selain tentunya meminta dengan muka innocent. Yang selalu membuat Fostine menerima tugas-tugas itu dengan senyuman.

Belum selesai berkutat dengan tugas-tugas itu, kadang Davi memaksa Fostine ke pesta-pesta tengah malam, yang diisi dengan berbagai asap rokok (Yang selalu membuat asma Fostine kambuh), minuman keras, dan orang-orang yang mabuk. Yang pernah membuat mereka bertengkar karena Fostine menolak Davi untuk pergi ke pesta seperti itu lagi.

Tapi tidak hari ini! Hari ini Fostine ingin bebas, dari tugas-tugas, dari gosip tentang Davi, dan dari Davi. Sebelum ke BlurryBurger, Fostine sudah belanja beberapa baju di Boxyliv distro favoritnya, juga pergi ke Dreamwurld Bookstore, membeli beberapa teenlit yang sudah lama ingin dibelinya.

Setelah memesan Double Chesse Burger Plain, Curl Fries, dan milkshake vanilla (Tentu menu favoritnya juga) Fostine berjalan menuju ke tempat duduk di ujung beranda, dekat dengan jendela yang membuatnya dapat melihat pemandangan taman di tengah LaffWalk. Yang diisi dengan berbagai macam bunga, dan terdapat kolam kecil yang kata orang adalah Wishing Well (Yang menurut Fostine adalah kenyataan, karena beberapa keinginannya yang diucapkan di kolam itu terjadi, salah satunya, ditembak Davi).

Yaahh... udah ada yang dudukin, tuh. Pikir Fostine kecewa karena melihat sudah ada pasangan yang duduk di tempat favoritnya itu. Mereka pake acara cium-ciuman lagi, yuck! Ini kan tempat umum.

Gw sama Davi aja nga segitunya. Tapi, tunggu.

Bukannya itu... Davi!?? Dan... Cewek itu, berambut tebal, ikal, berwarna kecoklatan. Cewek yang selalu diceritain sama Viena, Dian ataupun Shelly. Fostine lemas seketika, pikirannya kacau, antara marah, kecewa, dan merasa menyesal. Lalu menaruh pesanannya di meja terdekat. Berjalan menuju pasangan itu.

'Fos...Fostine?' Davi tergagap saat melihat Fostine yang sudah berdiri di sampingnya.

'Siapa, Vi?' Tanya cewek berambut ikal kecoklatan itu sambil memainkan rambutnya.
Dasar kegenitan!

'Ke... kenalin, Tine. Ini.. ini...' Davi masih tergagap sambil berdiri.

Fostine tidak menjawab apa-apa.

PLAKK!!

Beberapa orang melihat ke arah mereka, Davi memegang pipinya yang memerah karena ditampar Fostine.

'Lo keterlaluan, Vi...' Kata Fostine pelan berusaha menahan emosinya sambil berlari ke pintu keluar, menuju ke tempat parkiran.

'Fostine!!' diantara tangisannya Fostine masih mendengar Davi memanggilnya, namun rupanya Davi tidak mengejarnya. Dan, membuat Fostine semakin kecewa.

Ternyata! Semua yang Dian, Shelly ataupun Viena bilang itu bener, Davi emang selingkuh, dia selingkuh dari gw! Kenapa selama ini gw mau aja nurutin semua kemauan dia, kenapa gw percaya sama dia yang bilang kalo temen-temen gw itu sebenernya pembohong 'Mereka ngedeketin kamu cuma karena uang kamu, Tine. Kalo aku jadi kamu, sih. Aku nga mau bertemen sama mereka.' Davi jugalah yang melarang Fostine untuk pergi ke acara-acara sosial yang sangat disukainya, 'Jangan jadi sok malaikat gitu, lah.' Katanya. Gw nyesel! Batin Fostine sambil menangis di dalam Jazz merahnya.

Setelah lumayan tenang, tanpa berpikir lebih panjang lagi Fostine segera mengendarai Jazz-nya ke arah rumah Viena. Sampai di rumah Viena, Fostine langsung masuk ke kamar Viena, ternyata di sana ada Dian dan Shelly. Fostine lalu teringat ajakan teman-temannya itu untuk mengadakan Slumbber Party di rumah Viena (Yang ditolak Fostine dengan alasan bahwa ia harus mengerjakan tugas deadline Kording sekolahnya).

'Fostine? Lo kenapa, sayang?' tanya Shelly cemas, karena melihat Fostine yang langsung menangis sewaktu melihat Viena.

'Ter...Ternya..Ta...' Fostine tergagap salam tangisnya.

'Mending lo tenang dulu, deh.' Kata Dian.

'Gw ambilin minum, ya?'

Fostine mengangguk.

Tak lama Viena kembali, membawa segelas air putih.

Fostine yang sudah lebih tenang, lalu menceritakan apa yang dilihatnya di BlurryBurger. Teman-temannya mendengarkan dengan seksama.

'Kelewatan, Davi itu...' Komentar Viena sedikit emosi.

'Sekarang mendingan lo tenang dulu, Tine.' sambung Dian.

'Gw nyesel, nyesel banget.' Jawab Fostine lemah.

'Ya, udah yang penting sekarang lo udah tahu gimana Davi itu sebenernya, jadinya sekarang lo nga bakal dibohongin lagi sama dia.'

'Tapi, kalo nga ada dia. Gw...' lanjut Fostine masih dengan suara lemah.

'Lagian lo nga sendirian, kok. Kan masih ada kita.'

'Iya, kita semua ada di sini untuk lo, kapanpun lo butuh bantuan pasti kita bantuin.'
'Tine, gimana kalo ikutan Slumbber Party kita aja? Kita kayaknya masih kekurangan orang, nih.' Tawar Viena ceria.

Fostine tersenyum lemah. Tanda setuju.

Ia memang menyesali semuanya, segala kebodohan, dan karena ia tak percaya pada teman-temannya. Tapi juga bersyukur pada Tuhan, karena telah diberikan suatu berkah yang tak tertandingi nilainya. Ya, Persahabatan.

--
cerita ini dimuat di Story of The Month versi blog Sitta Karina November 2005