Pages

Showing posts with label novel excerpt. Show all posts
Showing posts with label novel excerpt. Show all posts

Monday, June 19, 2006

No Fruits For Today

Bab I
Meety Mango

“Yang ampun, Rysta! Itu kan si garis-garis yang tadi!!!” bisik Shamu setengah histeris, sambil terus memandangi panggung.

“Apa? Garis-garis apa?” Jawab Rysta sambil mengikuti arah pandang Shamu.

“Haduh, itu sebelah lo!!” lanjutnya masih pada bisikan dengan nada exited yang sama. Ni anak ngomongin apa sih? Perasaan personilnya Sore nga ada yang pake baju garis-garis, deh. Ada juga polkadot!

Sore itu, Rysta dan Shamu sedang berada di Cendrawasih Room, JCC, menyaksikan pertunjukan band jazz lokal, Sore. Di JCC sedang diadakan Jakarta International Jazz Festival yang menghadirkan band-band jazz lokal ataupun internasional. Rysta dan Shamu mendapatkan tiketnya gratis mereka dari Om Shamu yang bekerja di BubbleCoke, perusahaan minuman soda kaleng yang menjadi salah satu sponsor utama penyelenggaraan JIZVal ini.

“Eh, maksud gw bukan Sore-nya tapi orang di sebelah lo yang pake baju garis-garis!” bisik Shamu lagi saat melihat Rysta kebingungan sendiri. Rysta menoleh ke sebelah kirinya. Hm, pantesan... tipenya Shamu banget, batin Rysta. Di sebelah Rysta berdiri seorang cowok berpotongan sedang, dengan kaos garis-garis vertikal putih-hitam, celana jeans belel, tas selempang distro, dan sepatu converse. Tipe anak selatan (anak-anak yang gaul di daerah jakarta selatan, mereka memiliki ciri khas khusus dalam style dan tempat tongkrongan favorit) yang anehnya ternyata ngerti juga band-band yang slow kayak Sore gini. Biasanya kan... apalagi selain Emo, Punk, atau Pop?
Rysta ingat sekarang, Shamu emang udah berisik dari tadi tentang cowok garis-garis ini sejak mereka nonton Drewl (Wah, bahkan dia suka Drewl? Band acidjazz itu? ok juga.) tapi Rysta tidak terlalu memperdulikannya, dia sibuk melihat jadwal pertunjukan dan sesekali mengiyakan kata-kata Shamu.

Rysta melirik Shamu sesaat. Sedang berusaha tampak serius mendengarkan Sore, padahal Rysta tahu ia tidak begitu cocok dengan lagu-lagunya Sore yang sebenernya nga gitu beda sama White Shoes&The Couples Company, band yang disukai Shamu. Huh, dasar jaim! Konyol tapi lucu juga, pikir Rysta, ngapain sih repot-repot jaim segala... kalo mau kenalan ya, langsung aja ajak ngobrol. Ah, males urusin Shamu, mendingan ke deket panggung, deh.

Rysta menembus orang-orang yang ada di depannya, tubuhnya yang mungil membuatnya sedikit kesulitan, ia tahu Shamu di belakangnya pasti sedang menatap kepergiannya dengan tatapan panik dan hopeless. Saat sedang menikmati lagu No Fruits For Today, dan dengan perasaan senang campur lega berhasil meninggalkan Shamu dan kebawelannya. Rysta melihat dua orang berpelukan di ujung panggung...

“...see it thru, me and you...”

Tepatnya si cewek yang memeluk cowoknya. Dari gesturnya si cowok terlihat risih.

“...I love you when you love me,...”

Dan, Rysta mengenal betul si cowok dan cewek itu. mereka. Aga dan Avelli. Lagi?

“...and we’re gonna make a big family...”

Beberapa saat dada Rysta terasa sesak, dan air mata memenuhi kelopak matanya. Ia segera berlari ke belakang, menuju pintu masuk.

“Rys?” tanya Shamu bingung ketika Rysta melintas di depannya. “Lo—”

“Gw mau ke WC, lo di sini aja. Bentaran juga balik, kok.” Kawab Rysta tanpa memberi Shamu kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya.

Shamu terdiam. Ia tak mengerti apa yang harus ia lakukan, tapi, paling baik adalah membiarkan Rysta sendiri dulu, pikirnya. Lagian dia juga lagi sibuk ccp sama cowok di sebelahnya ini, hehe.

Rysta terhenti di pojok ruangan yang gelap itu. nga ada gunanya juga ke WC yang penuh sesak begitu, yang ada semua orang malah memperhatikan air mata yang tak bisa berhenti mengalir dari matanya itu pelan-pelan tubuhnya nelemas dan Rysta pun terduduk di pojok ruangan itu. pikirannya dipenuhi oleh berbagai memori yang berlalu seperti film tua yang speakernya sudah rusak, membuat berbagai macam keriuhan di kepala Rysta. Aga...

Bruk!

Seseorang duduk secara tiba-tiba di sebelah Rysta. Rysta hampir terlonjak sangking kagetnya, rupanya sesaat ia melupakan keadaan sekitarnya karena terlalu memikirkan masa lalunya. Ia melirik orang yang duduk secara tiba-tiba di dekatnya. Kalo nga salah, cowok ini kan yang berdiri di belakangnya si garis-garis, pikir Rysta. Ia buru-buru menghapus air matanya. Rysta tahu, cowok di sebelahnya sedang memperhatikannya, dan membuatnya semakin risih.

“Lo... nga apa-apa?” tanya cowok stranger itu pelan sambil mengulurkan tisu kepada Rysta.

Rysta hanya tersenyum pahit, menggeleng sambil menerima tisu itu, lidahnya masih terasa sulit untuk digerakan. Kelu.
Sesaat Rysta melihat sepertinya cowok itu tersenyum simpul.

“Hei, kalo cewek duduk sendirian, mojok, udah gtu gelap-gelapan bisa dikirain yang aneh-aneh, lho...” katanya sambil membetulkan posisi duduknya menjadi semakin berantakan.

Rysta tertawa. Ternyata ia sangat membutuhkan orang lain, buktinya komentar yang sebenarnya tak terlalu lucu saja dapat membuatnya tertawa seperti itu.

“Huff... ternyata lo bisa juga ketawa ya? Sore lagi manggung kok malah lari ke belakang.”

“Yah, kalo mau ke WC gimana?”

“Iya, tapi ini bukan jalan ke WC. Gw kira lo salah jalan ato gimana.”

Rysta tersenyum. Heran juga, kenapa ngobrol dengan orang yang tak dikenalnya ini dapat membuat beban di atas kepalanya menghilang.

“Eh, bentar ya. Stay here 5 minutes aja! Please?” tanya cowok itu pada Rysta yang hanya dijawabnya dengan anggukan. Anggukan bingung.

Lalu cowok itu berlari keluar ruangan, dan tidak sampai 5 menit kemudian dia sudah kembali lagi membawa 2 cup minuman panas, kembali duduk di sebelah Rysta.

“Nih, untuk lo.” Katanya sambil menyerahkan salah satu cup minuman panas itu.

“Eh? Beneran? Tapi,...” Kata Rysta masih bingung dengan tingkah laku orang dihadapannya ini. tapi si cowok itu malah menarik tangan Rysta lalu meletakan cup itu di atasnya.

“Gee, thanks.” Jawab Rysta. Tulus.

“Sama-sama.” Jawab si cowok sambil meminum bagiannya. Sore sedang melantunkan lagu Somos Libres.

“Walo rada kepaksa juga.” Kata Rysta iseng. Setengah pengen tahu reaksi stranger yang so(k) baik di hadapannya ini setengah emang iseng aja.

Cowok itu mendelik Rysta. Membuat Rysta tertawa lagi dalam hati kali ini, lalu ia meminumnya. Mmm... Caramel Latte.

“Kepaksa tapi diminum juga tuh.” Balas si cowok.

“Dasar!” Rysta terpojok sendiri. Rysta baru memperhatikan cowok ini, lho? Ini kan si cowok garis-garis yang dari tadi diperatiin sama Shamu. Haha gimana ya reaksinya Shamu kalo dia tau cowok ini lagi duduk barengan Rysta di pojok ruangan, pake acara nraktir Caramel Latte segala lagi! Udah kayak baru pertama kali ktemu sama Aga aja... aga? Ingatan Rysta kembali lagi ke saat itu...

Monday, December 19, 2005

Untitled

‘Dateng juga, lo.’ Ucap Lola sambil melihat sekilas Callea yang berjalan santai ke arahnya.

‘Tujuan gw bukan bantuin lo, ini demi Radit.’

‘Yeah, whatever.’ Jawab Lola dengan nada tidak peduli. ’Kapan ni anak berenti bersikap nyolot.’ Lanjutnya bergumam.

‘Yang pasti gw nga akan berenti nyolot sampe orang berenti nyolot di depan gw.’ Ucap Al sambil menatap Lola. Lola terkejut. Dia denger,toh. Batin Lola.

‘Jadi, gw mesti ngapain?’ tanya Cal sambil melihat hasil pekerjaan Loli yang baru ¼ jadi itu. Loli mengeluarkan Planning Sheet-nya dan memperlihatkannya pada Cal.

‘Rencananya gw mau bikin kayak gini, di sebelah sini.’ Jelasnya.

‘Kenapa lo nga make warna-warna yang lebih mencolok, warna yang elo pake cewek banget.’ komen Al.

‘Selain gw nga gitu suka sama warna mencolok, gw juga belom pernah make warna mencolok banyak-banyak itu.’ Sahut Lola sambil melemparkan sebotol cat semprot pada Al. Al menangkapnya dengan sigap, lalu mulai memperhatikan basic Lola lagi.

‘Such a Low-end, di mana-mana yang namanya grafitti itu mencolok dan menarik perhatian.’ Katanya sambil terus memperhatikan basic Loli yang didominasi dengan warna-warna pastel itu.

‘Apa? Low-end??’ Loli tidak terima ia disebut ‘Level rendahan’ dalam hal grafitti seperti ini.

‘Emangnya kenapa kalo kita mau bikin yang beda?? Toh, hasilnya bukan mau dipamerin tapi untuk dilihat sama yang bersangkutan.’ Kata Loli sambil melepaskan ikatan saputangan dari kepalanya.

‘Apa bedanya dipamerin sama dilihat? Apapun tujuannya, grafitti nga bisa lepas dari basicnya: warna mencolok dan menarik perhatian.’ Jawab Cal sambil mengoreksi basic Loli, menambahnya dengan warna-warna mencolok.

‘Sok tahu banget,sih! Grafitti itu kan seni, seni itu kan seharusnya nga terpatok sama peraturan!’ Jawab Loli keberatan melihat basicnya diubah sebagian besar, semakin lama semakin banyak yang diubah oleh Cal.

‘Yang sok tahu itu siapa, jurusan gw seni. Gw tahu mana yang bener mana yang salah.’

‘Terserah.’ Jawab Loli akhirnya, dengan suara yang bergetar menahan emosi. Rasanya darah Loli sudah sampai ujung kepala. Tapi ia terus memperhatikan planning sheet-nya yang sedang dirombak oleh Al.

Eh, tapi dia bener juga, sih. Mendingan bagian situ ditambahin merah trus sebelahnya biru tua. Pikir Loli sambil terus memperhatikan pekerjaan Cal.

Tak berapa lama Cal mengeluarkan rokoknya, dan menyalakannya di depan Loli.
‘Rokok lagi!’ bentak Loli lalu merebut sebungkus rokok Cal juga mengambil rokok yang sedang dihisap Cal beserta dengan pematiknya lalu membuang rokok itu ke tanah yang telah dilapisi koran dan menyemprot rokok itu dengan pilox hitam.

‘What the hell you think you doin—?!’ bentak Cal pada Loli kaget rokoknya diambil dan disemprot pilox.

‘Nga liat itu??’ Ucap Loli keras sambil menunjuk Kertas bertuliskan ‘BEBAS ROKOK DAN KOPI’ besar-besar yang ditempelkan di salah satu ujung tembok dekat pintu masuk.

‘Lo tahu, gw benci rokok. Jadi jangan sekalipun pernah ngerokok di depan gw! That thing makes me can’t breath well and makes my body can’t feel well! Lo nga tahu gimana rasanya orang yang asma dan memerlukan inhaller and other antibiotics to makes you—just to makes you can breath well! Terserah lo mau ngerokok bahkan jadi pecandu berat, it’s all your problem but not in front of me! I hate it!’ teriak Loli lepas kendali, wajahnya memerah, tubuhnya bergetar, semua emosinya yang ia tahan sejak pagi hari serasa meledak.

Cal terdiam. Pertama, dia kaget karena belom ada orang yang ceramah tentang rokok sambil berteriak di depannya. Kedua, dia nga tahu Loli asma yang dia tahu Loli nga suka rokok. Dan terakhir, yang teriak kepadanya adalah anak kelas 2 SMA.

‘Sorry.’ Kata Cal kemudian memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka berdua. ‘Gw salah, gw janji nga bakal ngerokok lagi...’ lanjutnya. ‘ Di depan elo.’ Tambahnya cepat-cepat.

Loli terdiam, pikirannya masih bergemuruh. Antara marah, jengkel, dan bingung. ‘Ngerti nyesel juga lo.’ Jawabnya kemudian. Jawaban yang salah dan ia sendiri menyesali itu sedetik kemudian.

‘Lo...’ kata Cal tertahan, rasanya sedetik yang lalu gw baru saja meminta maaf pada cewek angkuh ini sekarang ni cewek udah nyolotin gw lagi! Apa sih maunya! ‘Kalo lo bukan cewek...’ Lanjutnya pelan tertahan lalu ia terdiam dan melanjutkan lagi pekerjaannya. Nga ada gunanya juga gw ngurusin ni cewek, pikirnya.

Callea tidak tahu kalau Loli sendiri merasa sangat menyesal telah berkata seperti itu padanya. Akhir-akhir ini Loli tidak bisa mengontrol tingkah dan emosinya terlebih kalau ia berhadapan dengan Cellia. Sejak ia pertama kali bertemu sampai sekarang. Tak sadar Loli mengeluarkan air mata. Tapi lalu menghapuskan air mata itu cepat-cepat dan mulai memasang sapu tangannya lagi.

Hari ini Al datang ke rumah Radit untuk membantu Lola mengerjakan surprise-nya sebagai hadiah ulang tahun Radit. Kebetulan hari itu Radit sedang sibuk dengan tugas kuliah kelompoknya dan rencananya ia akan menginap di rumah Fauza selama beberapa hari. Awalnya Lola sendiri ragu dengan idenya untuk mengajak Al mengerjakan tugas ini udah jutek, cuek, ngerokok lagi! Pikirnya. Tapi siapa lagi yang bisa membantunya? Al seorang bomber dan dia kuliah di jurusan seni, tentunya dia lebih mengerti tentang hal ini daripada teman-teman Radit yang lainnya. Akhirnya Lola memutuskan untuk tetap mengajaknya. Dan, tanpa disangka-sangka ternyata Al menerima ajakan Lola itu. Lola sendiri cukup surprise saat mengetahui bahwa Al setuju untuk membantunya mengerjakan secret project ini.

Rencananya Lola ingin membuat grafitti di dinding taman Shira-taman belakang rumah Radit yang mereka jadiin tempat private mereka berdua dan nga sembarang orang boleh masuk ke tempat itu. Lola tadinya optimis dia bisa ngerjain grafitti itu sendiri di tembok yang berukuran 2x3 itu

--bersambung
(Kira-kira ini dilanjutin nga y?)

Sunday, November 27, 2005

Caff'a'Ville part 2

Our Past
Ninta

Temenku si Chicha ini, sepertinya lagi jatuh cinta. Dia nga sadar waktu lagi cerita tentang si Ben itu matanya berbinar-binar. Hahahhaha, Chicha emang bener-bener anak yang lucu. Anaknya emang rada introvert, mungkin akibat hubungan antara ayah dan ibunya waktu Chicha masih kecil (yang setiap hari diisi dengan jeritan, amukan sang ayah, dan tangisan sang ibu), apalagi dia nga punya saudara kandung (Aku juga nga, sih). Jadinya nga ada yang bisa diajak curhat sama dia, sebelum dia ketemu sama aku dia bener-bener seorang gadis yang kacau, dan aneh menurutku waktu itu.

Aku dan Chicha kenalan waktu kelas 4 SD, waktu itu aku baru pindah dari LA. Aku lahir dan besar di sana. Sebenernya aku nga mau pulang ke Indonesia waktu itu, aku paling nga bisa tahan panas dan Indonesia menurut cerita kedua orangtuaku adalah negara tropis dan itu berarti sangat panas. Aku benci banget sama yang namanya panas sejak kecil kalo kena panas menyengat sampai kurang lebih 30 menit saja tubuhku sudah mngeluarkan keringat, karenanya kacamataku menjadi melorot dan rambutku langsung jadi lepek. Itu adalah hal yang paling aku benci dalam hidupku : Panas, keringat, dan kacamata melorot. Ukh! Benar-benar menyebalkan.

Waktu sedang memperkenalkan diriku didepan kelas kebanyakan anak tertarik denganku (Rupanya jarang ada anak baru di angkatan mereka) Tapi ada satu anak yang tidak tertarik denganku dia malah menguap dan memainkan pensil dan bolpennya Dasar anak aneh pikirku. Bu guru baruku itu menyuruhku untuk duduk di sebelah anak perempuan ini What a Nightmare!. Mau tidak mau aku menurutinya karena satu-satunya kursi kosong di kelas itu adalah kursi di sebelah anak aneh itu. ‘Ya, ampun... Kasian banget si anak baru. Masa disuruh duduk disebelah Chicha.’ ‘Iya,iya. Padahal keliatannya anak baru itu asik orangnya.’ Di sekelilingku terdengar beberapa bisikan seperti itu. Aku jadi semakin malas untuk duduk dengan anak perempuan, yang sepertinya bernama Chicha ini.

‘Jangan dengerin mereka.’ Katanya pelan waktu aku sampai di sebelahnya dan meletakan tas pink baruku. ‘Aku nga senakutin yang mereka bilang, kok.’ Lanjutnya tetap tidak memandang ke arahku. Walaupun dia tidak menoleh ke arahku aku tahu dia berbicara denagnku. Tapi... kok dia bisa tau pikiran aku, sih?

‘Kamu...’ kataku. ‘Chicha.’ Jawabnya pendek tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan kalimatku. Benar-benar anak yang unik. ‘Aku Ninta. Salam kenal.’ Lanjutku sambil mengulurkan tanganku mengajaknya bersalaman. Tapi Chicha tidak membalas tanganku itu, boro-boro menyalamiku memandang ke arahku saja tidak. Menyebalkan!

Di kelas baruku itu akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktuku untuk mendengarkan pelajaran Bu Susi, guru baruku. Dan mengobrol dengan teman di depan dan belakangku Rita dan Dilla. Chicha tidak mendengarkan pelajaran, juga tidak mengobrol dengan siapapun. Aku hanya mengobrol dengannya ketika aku ingin meminjam penghapusnya atau barang lainnya.

‘Ta, Chicha itu emang dari dulu seperti itu, ya?’ tanyaku pada Rita saat kami sedang istirahat siang, Rita dan Dilla mengajakku ke lapangan belakang. Katanya lebih asyik disana, sepi.

‘Seperti itu gimana maksud kamu?’ tanyanya balik sambil mengeluarkan bekal makan siangnya.

‘Aneh maksud kamu?’ lanjut Dilla. Saat aku sedang sibuk mengeluarkan bekalku dari tas sekolahku. Sandwich daging! Yum!

‘Ya, itu maksudku.’ Jawabku sambil mulai mengunyah sandwich dagingku.

‘Sebenernya waktu kelas 2 nga kayak gitu. Tapi, nga tau sejak kapan dia jadi aneh begitu. Bukan cuma aneh, tapi juga jahat. Dia suka ngerjain anak-anak baru.’ Jelas Rita.

‘Iya,iya! Waktu kelas 2 aku maen sama dia, kok. Aku juga sering ke rumahnya. Ibunya cantik banget, malahan lebih cantik ibunya dia daripada ibuku.’ Lanjut Dilla sedikit tidak nyambung.

‘Eh, gimana kalo kita kerjain dia aja?’ usul Rita.

‘Iya, sebelom dia ngerjain kamu. Tadi ps istirahat pertama aku denger dia udah punya rencana buat ngerjain kamu, Nta. Katanya dia bakal masukin sampah ke tas kamu itu.’ Lanjut Dilla.

‘Eh? Kalian serius?’ tanyaku sedikit kaget. Apa yang ngebuat Chicha ngerjain aku kayak gitu?

‘Iya, kan tadi aku udah bilang. Dia tuh hobinya ngerjain anak-anak baru kayak kamu gini, Nta.’ Rita terdiam sebentar.’ Gimana kalo kita masukin sampah di tas dia. Sebelom dia ngerjain kamu, Nta.’ Usulnya lagi.

‘Ng...’ kataku sambil berpikir. ‘tapi siapa yang mau masukin sampah-sampah itu?’ tanayku kemudian.

‘Tentu saja kamu.’ Jawab Dilla cepat. ‘Kalo kami, aku rasa itu...’

‘Bukan ide yang bagus, soalnya guru-guru sudah menganggap kami anak-anak bandel. Tentu saja semua itu gara-gara Chicha. Dia yang menjebak kami.’ Sambung Rita. ‘Ok, kan?’

Aku hanya mengangguk pelan. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Keesokan harinya aku menjalankan rencana itu, waktu istirahat pertama aku menumpahkan isi tempat sampah yang baunya... Yuck! Banget itu ke dalam tas Chicha. Rita dan Dilla tertawa kesenangan sewaktu kuceritakan ketika istirahat ke dua di lapangan belakang yang dipenuhi oleh bata blok itu berbeda sekali dengan lapangan depan yang biasa dipakai istirahat oleh para murid-murid lapangan di depan ditumbuhi dengan rumput tebal yang halus.

Bukk

Makananku terjatuh. Aku pun ikut terjatuh sikut dan lututku berdarah rupanya karena tergesek bata blok tempat aku berdiri. Ada seorang anak cowok yang menabrakku.

‘Heii!!! Minta maaf dulu sama Ninta!!!’ teriak Rita pada anak itu. Tapi si cowok malah menjulurkan lidahnya. Benar-benar tak tahu diri! Selama hidupku belum pernah aku tidak dihormati seperti ini! Tak sadar aku pun menangis. Lukaku sakit banget.

‘Iiihh..’ jerit Dilla jijik saat dia melihat lukaku. ‘Ta, liat ,deh. Lukanya Ninta jijikin banget!!’

‘I...Iya...’ kata rita saat melihat lukaku itu, rupanya mulai mengeluarkan nanah. Lalu mereka berdua pun berlari meninggalkan aku sendirian di lapangan belakang yang sepi itu. Karena masih shock dan menahan sakit lukaku akupun menangis. Tak lama Chicha datang.

‘Ikut aku.’ Katanya pendek masih dalam suara yang pelan. Aku tak bertanya ke mana ia akan mengajakku aku hanya terdiam saat dia menggandeng tanganku dan mengajakku ke UKS.

‘Bu, ada orang yang jatuh.’ Katanya waktu melapor ke bu guru penjaga UKS. ‘ya ampun, kok bisa begini? Kamu pasti maen-maen ke lapangan belakang, ya?’ tanyanya khawatir saat melihat luka di kaki dan tanganku. Aku hanya bisa mengangguk lemah.

‘Chicha, sebaiknya kamu kembali ke kelas. Pelajaran sudah dimulai kembali.’ Perintah bu guru pada Chicha. Chicha pun hanya mengangguk pelan dan berjalan santai menuju ke kelasnya. Kok dia bisa tahu aku jatuh di lapangan belakang ya? Apa benar ia telah menyusun rencana itu, karena tahu aku yang menumpahkan sampah di tasnya? Tanyaku dalam hati. Masih tetap bingung.

Keesokan harinya aku nga masuk sekolah. Rupanya luka di kakiku itu terinfeksi sehingga aku menjadi demam. Nga terlalu tinggi sebenarnya tapi cukup untuk membuat kedua orangtua dan nenekku panik seharian mengurusiku.
Saat aku terbangun dari tidurku. Ada seseorang yang mengetok pintuku.

‘Non Ninta, ada tamu. Tuh...’ terdengar suara Bibi dari luar kamar.

‘Suruh masuk aja, Bi.’ Jawabku lemah dari dalam kamar. Tamu? Siapa, ya? Apa Rita dan Dilla? Tanyaku dalam hati.

Tapi ternyata yang masuk ke kamarku adalah Chicha. Chicha?

‘Hei, kamu nga apa-apa?’ kelihatan banget hanya pertanyaan basa-basi. Karena sebelum aku sempat menjawabnya dia sudah melanjutkan lagi. ‘Aku disuruh ke sini sama Bu Susi buat nganterin catetan hari ini.’

‘Oh. Ngomong-ngomong...’ aku terdiam sebentar berusaha mencari kalimat yang benar untuk menyusun pertanyaanku.

‘Kenapa aku bisa tahu kalo kamu ada di lapangan belakang?’ tanyanya sambil memandang sekeliling kamarku yang didominasi warna beidge itu. Kayaknya dia bener-bener mind reader, deh!

‘Aku denger obrolan Rita dan Dilla waktu mau masuk ke kelas. Merekalah yang menyuruh Thomas untuk nabrak kamu kemarin.’ Apa? ‘Aku tahu kamu kaget. Tapi itulah yang sebenarnya.’ Lanjutnya waktu melihat raut wajahku.

‘Ng..nga mungkin.’ Jawabku lemah. Tiba-tiba kepalaku sakit sekali.

‘Ya, terserah kamu, sih. Dan jangan berlaku seolah-olah kamu nga punya salah sama siapapun. Aku tahu kok apa yang kamu perbuat ke aku kemarin.’ Katanya pelan sambil mengamati foto-fotoku yang kutempel di kaca riasku. Deg!~

‘Ya udah, kalo gitu. Aku pulang dulu, ya. Ibuku sudah menunggu di depan.’ Katanya sambil berjalan menuju pintu kamarku. ‘Cepet sembuh, ya. Katanya pelan sambil menutup pintu kamarku.’

Dia... bener-bener unik. Aku merasakan rasa bersalah yang cukup kuat dari dalam hatiku.

Akhirnya keesokan harinya aku sudah bisa masuk sekolah lagi. Sewaktu istirahat tak sengaja aku mendengarkan percakapan antara Rita dan Dilla.

‘Ih... gw sebel banget samatu anak baru, gayanya sok bule banget!’ terdengar suara dari balik tembok. Yang kukenal sekali. Suara Rita!

‘Iya, si miss centil itu! Kenapa dia nga masuk sampe seminggu aja sekalian, gw juga kesel banget sama tingkahnya dia. Untungnya aja rada bego tu anak. Mau-maunya ngikutin akata-kata kita. Hhihihihi.’ Terdengar suara kedua dengan tawanya yang khas. Tawa Dilla!

Tanpa diperjelas lagiaku juag sudah tahu kalau mereka berdua membicarakan aku. Oh... hatiku benar-benar kacau. Akupun berlari tak menentu arah. Sampai akhirnya aku menabrak seseorang.

‘Aduh...’ kata orang itu.

‘Ninta?’ lanjutnya sewaktu melihat siapa yang menabraknya. ‘Kamu kenapa?’

Chicha!

‘Aku.. aku tadi denger waktu Rita Dilla lagi ngomongin aku. Ternyata mereka ngerjain aku.’ Kataku tak jelas sambil sibuk mengelap air mataku. Yang semakin lama semakin banyak. ‘Aku mau minta maaf sama kamu, aku bersalah sama kamu.’

Chicha hanya terdiam mengamati wajahku sebelum akhirnya dia berkata.

‘Kayaknya kamu nga ngebosenin kayak yang aku kira. Gimana kalo kita temenan?’ tawarnya sambil menjulurkan tangannya ke arahku.

Aku terdiam. Bingung. Tapi akhirnya aku membalas uluran tangan itu.

‘Ya, kita temenan.’ Jawabku pelan sambil berusaha tersenyum.

‘Nta!!!! Ninta!!! Bangun... udah jam 10!!!’ tiba-tiba aku merasakan seseorang menguncang-guncang tubuhku.
‘Mau tidur sampe kapan sih lo?’ Lanjut orang itu. Aku membuka mataku sedikit rupanay Chicha, ya ampun! Dia udah siap pake gayung segala. Aku cepat-cepat terbangun takut disiram dengan ember yang aku yakin isinya air dingin itu. Kepalaku jadi sedikit pusing karena bangun cepat-cepat.

‘Udah bangun? Makan yuk, ajaknya sambil berjalan menuju ke kamar mandi mengembalikan gayung pink-nya.

Ternyata semalam aku tertidur dan bermimpi mengenai pertemuan pertamaku dengan Chicha, sungguh unik!
Sekarang sudah hampir 6 tahun setelah kejadian itu. Aku dan Chicha masih berteman. Chicha juga udah nga seaneh dulu dan aku juga udah nga selugu dulu. Sebenernya sih, sejak kejadian itu aku jadi berubah (Sengganya itulah yang kuinginkan) Aku nga mau lagi jadi Ninta yang gampang terpengaruh. Aku mau jadi seseorang yang kuat dan tegas!

Wednesday, September 28, 2005

Caff'a'Ville

By. Kanya Stira

‘Cha, gimana kalo Jum’at sore besok kita ke Fundament, Drewl bakal manggung disana, n gw dapet tiket gratisnya dari bokap gw.’ Tawar Ninta pada Chicha sambil mengacung-acungkan tiket masuk Fundament di depan muka Chicha. Chicha yang sedang mendengarkan Jimmy Gets High- Daniel Powter langsung melepas earphone dan mematikan iPod mini pink-nya.

‘Huaaa!!!! Mau banget!! Nta, lo emang baek banget.’ Jawab Chicha histeris. Membuat beberapa orang yang sedang sibuk menghapalkan peta buta India yang akan ulangan jam terakhir nanti menoleh ke arah Chicha dan Ninta.

Chicha sedikit merasa malu, tapi, mau gimana lagi. Drewl adalah band lokal kesukaan Chicha saat ini, sebagai salah satu Music Freak sejati Chicha selalu mengamati perkembangan penyanyi-penyanyi jaman sekarang. Dan salah satu band lokal yang menurut Chicha paling berqualified saat ini adalah Drewl. Sangat berbeda dengan tujuan Ninta, yang cuma pengen ngecengin anak-anak Drewl yang menurutnya keren banget, nga peduli sama musiknya yang campuran antara Pop, Jazz, dan sedikit soul.

‘Kalo gitu nanti kita langsung ketemuan di Fundament aja, ok?’ Kata Chicha sambil menyalakan iPod dan memasang earphone di telinganya lagi.

Fundament adalah nama salah live house tempat band-band lokal manggung. Terletak di pusat pertokoan LaffWalk yang dekat dari SMP Sandarina, sekolah Chicha dan Ninta. Masuk ke Fundament sebenarnya gratis, tapi karena setiap jum’at mengunjung yang datang selalu melebihi batas maksimal maka diberlakukanlah peraturan untuk membeli karcis terlebih dahulu.

Inilah yang lalu membuat Chicha kesusahan untuk datang ke Fundament, masalahnya bukan di harga tiketnya (yang sebenernya nga terlalu mahal-mahal amat) tapi karena terbatasnya karcis itu sendiri. Biasanya loket penjualan dibuka pada Kamis pagi dan setiap Chicha sampai di sana pasti antrian sudah panjang dan Chicha selalu nga dapet tiket. Makanya Chicha senang sekali waktu dikasih tiket gratis sama Ninta.
Chicha


Namaku Chicha, lengkapnya Grynallita Alyssa Widata. Aku sekolah di SMP Sandarina, salah satu SMP swasta. Umurku 15 tahun. Dan aku tidak punya pacar, ralat, aku belum pernah punya pacar.

Uuuuhh... itulah yang membuatku resah akhir-akhir ini. Teman-temanku kebanyakan sudah mempunyai pacar. Bahkan kemarin Finta sudah jadian lagi dengan pacar ke 4nya. Yah... jangan dibandingin sama aku juga, sih. Finta kan anggota ganknya Fostine, kelas atas (Begitulah aku dan Ninta menyebutnya) yang isinya cewek-cewek cantik dan modis yang selalu mengikuti gaya fashion terbaru. Sementara aku, gaul saja jarang-jarang. Aku lebih banyak mencurahkan waktu dan perhatianku pada pelajaran (Karena aku sudah kelas 3 sekarang) juga perkembangan musik.

Tapi, akhir-akhir ini aku sadar juga punya cowok itu sudah menjadi salah satu kebutuhanku. Aku suka berkhayal, aku pengen banget ketemu cowok yang romantis, baik, setia... Pokoknya tipe-tipe White Prince gitu, deh. Yang selalu aku temukan di dalam cerita-cerita manga jepangku.

Tadi Ninta mengajakku untuk menonton salah satu band kesukaanku saat ini, Drewl. Aku senang banget, paling tidak sabtu nanti aku tidak harus merasakan kebetean lagi, karena semua teman-temanku sudah menghabiskan waktunya dengan pacar tersayang mereka masing-masing. Uuu... aku nga sabar, nih! Eh, siapa tahu aku bisa ketemu cowok keren di sana.



‘Nta, lo di mana, sih?’ kataku sedikit berteriak pada handphoneku, keadaan LaffWalk malam itu ramai sekali, banyak cewek-cewek yang berpakaian norak berbeda sekali denganku yang hanya mengenakan v-shrt putih dan celana pipa. Dan Ninta belum datang juga padahal sekarang udah jam 8 kurang 5 menit dan acaranya akan dimulai pukul 8.

‘Iyaa...Sebentar. Bentaran nyampe, kok.’ Jawabnya Ninta di ujung sana, tapi aku tahu sekali kalo dia masih berada di rumah. Dasar Miss lelet, rupanya kebudayaan Indonesia bagian ngaret sangat kental dalam dirinya.

Dasar!!!

Dukk!!

Auww!!

Seorang cowok bertampang sangar menabrak Chicha dan menumpahkan jus lemon yang sedang diminum Chicha. Baju Chicha menjadi basah dan lengket. Ahh!! Baju kesayangan gw!!!

‘Sori.’ Kata cowok itu pelan mengambil stick drumnya yang tadi juga ikut terjatuh saat menabrakku. ‘Ikut gw.’ Lanjutnya sambil menarik tangan Chicha kasar.

Aduh. Sakit! Kasar banget, sih. Batin Chicha yang hanya mengikuti cowok tak dikenal itu. Entah mengapa Chicha mengikuti cowok itu.

Cowok tak dikenal itu mengajak Chicha masuk ke salah satu Fitting Room di belakang panggung Fundament. Dia kok bisa punya pass-nya? Apa dia salah satu anggota band ya? Tapi, bukannya yang mau manggung hari ini cuma Drewl?

‘Duduk di situ.’ Kata cowok tak dikenal itu sambil menunjuk ke salah satu sofa lusuh berwarna hijau toska di pojok ruangan. Lalu si cowok masuk ke salah satu ruangan.

‘Eh, tunggu.’ Kata Chicha pelan. Tapi rupanya si cowok tak menghiraukannya dan terus berjalan. Muka Chicha memerah, sejak tadi sebenarnya, ini pertama kalinya ia digandeng oleh seorang cowok tak dikenal, sekasar apapun itu.

Tak lama beberapa orang cowok masuk ke dalam ruangan itu. Waa... mereka ini kan anggota band Drewl!

‘Lho? Ceweknya siapa, nih?’ tanya salah satu cowok itu.

‘Eh, lumayan manis, nih’ lanjut yang lain.

Aku menunduk. Aku sadar mukaku mulai memerah. Maluu!!!

‘Jangan ganggu dia.’ Aku melihat ke arah suara itu. Cowok yang tadi!!

‘Nih, pake ini aja dulu, T-shirt band Drewl.’ Kata cowok itu sambil memberiku T-shirt berwarna hitam bertuliskan ‘Drewl’ yang masih terlipat rapi di dalam plastiknya.

‘Ma...makasih.’ jawabku tergagap sambil menerima t-shirt itu.

‘Ben, kayaknya lo terlalu kasar. Ni anak rada ketakutan tuh jadinya.’ Kata salah satu cowok yang ada di ruangan itu. Aku melihat ke arah cowok itu, cakep juga.

‘Eh.’ Kata seseorang yang sepertinya bernama Ben itu. ‘Sori, tadi gw panik banget. Takut telat manggung. Makanya gw buru-buru, apalagi tadi mobil gw mogok. Sial banget gw hari ini. Eh, mending sekarang lo ganti baju dulu, di sana’ Jelas cowok itu sambil menatap mukaku lalu menunjuk salah satu Fitting room. Deg!

‘iya.’ Jawabku lalu bangkit dari kursi hijau itu menuju ke arah yang tadi ditunjuk oleh cowok itu.

Wah! Ini kan t-shirt Drewl keluaran terbaru yang aku cari-cari. Aku baru sadar. Cowok tadi itu juga cakep, siapa namanya? Ben, ya. Pikirku setelah memakai t-shirt itu.

‘Udah? Maafin gw ya?’ kata Ben waktu aku keluar dari kamar ganti. Lalu Ben menjulurkan tangannya memintaku untuk bersalaman dengannya.

‘udah.. terima aja. Jarang-jarang lo si Ben mau minta maaf sama orang lain.’ Kata cowok yang tadi membelaku.

‘Apa, sih.’ Kata Ben salah tingkah. ‘Jangan dengerin dia, lo mau maafin gw kan?’ lanjutnya sedikit memaksa.

‘Iya, nga apa-apa, kok.’ Jawabku pelan sambil menerima tangan itu menatap mata Ben, matanya berwarna coklat. Aku baru menyadarinya. Deg!

‘Eh, sori ya. Kayaknya salamannya mesti selesai dulu, deh. Kita udah mesti manggung, Ben.’ Kata temannya yang lain.

Ben mengambil stick drumnya dan keluar bersama teman-temannya. Tiba-tiba hapeku berbunyi Wake Up dari Hilary Duff.

‘Chichaaaa!!! Lo di mana, sih?? Gw udah di depan panggung, nih. Dari tadi misscall – misscall lo sampe bete. Bentaran Drewl manggung, Lho!!!’ terdengar suara cerewet Ninta dari ujung sana.

‘Iya, iya. Sebentar.’ Jawabku sambil mematikan telepon itu. Ada 15 missedcalls. Ya ampun! Kok aku bisa nga sadar sama bunyi hapeku sendiri!

Malam itu Drewl manggung keren banget. Ternyata cowok bernama Ben itu drummernya Drewl.

‘Cha! Itu kan Abel! Anak SMA kita.’ Kata Ninta sedikit berteriak untuk menyeimbangkan suaranya dengan keadaan sekitar kita yang ramai. Sambil menunjuk vokalis Drewl di panggung.

‘Abel?’ tanyaku balik dengan suara yang cukup keras juga.

‘Iya, salah satu cowok populer di sekolah. Ahh!!! Chicha jangan bilang lo nga tau!!’

Aku memang tidak tahu, mungkin tepatnya aku tidak peduli. Yang aku tahu cowok di depan yang katanya Chicha keren itu adalah vokalis tetapnya Drewl dan juga adalah cowok yang tadi membelaku waktu di ruang ganti.

***

Malam itu Ninta menginap di rumahku, toh besok hari sabtu. Dan, sekolah ku libur di hari Sabtu. Kami merencanakan sebuah Slumbber Party. Ya, menghabiskan malam itu dengan tertawa, curhat, menari-nari, berdandan, dan girl stuff lainnya. Aku menceritakan alasanku terlambat tadi pertemuanku dengan cowok yang bernama Ben itu. Ninta terlihat exited banget mendengar ceritaku.

‘Ben?’ ulang Ninta sewaktu aku menyebut nama cowok itu. ‘Kok gw nga inget ada anggota Drewl yang namanya Ben ya?’

‘Ben itu yang tadi jadi drummer.’ Jelasku sambil mengoleskan kutex berwarna pink di kakiku.

‘Gw nga ngeliatin, tuh. Abis yang menarik perhatian gw cuma Kak Abel, sih.’ Katanya sambil mengambil biscuit bayi rasa susu. Biscuit favorit kami, apa salahnya remaja berumur 15 tahun memakan biskuit itu, kita kan juga pernah jadi bayi! Kalo bayi minum wine itu baru salah, karena dia belum pernah jadi orang dewasa. Itulah alasan yang kami berikan apabila seseorang menanyai kami tentang kebiasaan kami yang menurut orang-orang cukup aneh itu. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi, waktu Ben menyentuh tanganku untuk bersalaman dengannya. Tak sadar mukaku memerah karena teringat kejadian itu.

‘Cha? Lo kenapa? Kok muka lo merah gitu, sih? Salah makan lo?’ tanya Ninta sambil memperhatikan raut mukaku.

‘Ng..nga apa-apa, kok.’ Jawabku sambil menunduk berusaha berkonsentrasi pada kutexku.

‘Waa... akhirnya gw sekarang tahu tipe kesukaan lo.’ Kata Ninta tersenyum bangga. ‘ben sang drummer dari Drewl.’ Lanjutnya dengan senyum bangga.

‘A..Apa sih. Tipe favorit apa.’ Jawabku tergagap.

‘Ahahaha, udahlah, Cha. Nga usah malu-malu gitu sama gw. Eh, gimana kalo minggu depan kita nonton di Fundament lagi? Drewl bakal manggung di sana lagi kan?’ tawarnya padaku. ‘Kayaknya gw masih bisa minta tiket lagi ke bokap gw, kalo Cuma 2 orang.’ Lanjutnya.

Aku mengangguk pelan. Berusaha menyembunyikan muka merahku dari Ninta. Nin, lo emang baaiikkkkkkkkk banget!