Pages

Friday, August 08, 2008

Kucing Jalan

Entah sejak kapan kucing itu tergeletak disana mungkin sudah selama yang kuingat. Ribuan kali aku melalui jalan itu dan ribuan kali pula kucing itu setia disana. Ia akan menatap beku pejalan kaki yang melewatinya dengan sorot setajam pisau kristal, hingga apa yang ia alami pada masa-masa akhirnya hanya menjadi misteri pribadi para pejalan kaki yang melewatinya.

Lalu akan ada saat dimana beberapa manusia kecil dengan jiwa besar akan mengiba padanya lalu mencoba mengisyaratkan tunas-tunas nurani mereka kepada sekumpulan orang lalu lalang, tapi orang-orang yang lebih besar hanya lekas-lekas bergegas dari tempat itu. Menghindari apa yang mereka lihat dan akan terjadi apabila terlalu lama dilihat. Manusia-manusia kecil itu pun akhirnya melenggang pergi meninggalkan ibanya pada sang kucing dan tumbuh menjadi bagian dari orang-orang gegas tadi. Yang terkontaminasi dengan baik akan menjadi bagian dari dalang-dalang nomor satu teror kota sementara yang tidak terlalu baik akan menjadi bagian dari kesatuan naas yang hanya dapat membuat hitamnya kota semakin pelak.

versi lengkap


--
cerita ini ditulis berdasarkan ramuan humanisme yang membuih

No comments: