Pages

Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Tuesday, April 21, 2009

a

kadang rasanya marah. sangat marah hingga berteriak "sundal". Kalau sudah begitu lebih baik diam, diam, dan diam. Rasanya sangat pengap, hingga menggagap. menitik sambil mencaci. bulan rasanya memerah ingin kugapai lalu buang.

si pionir penuh dengan was-was
si pengikut mendapat nyaman

kebun ini sempit, seperti pikiranku

Monday, February 16, 2009

tentang aktor panggung

Aku melarikan diri dari kamu. Aku bukan aktor kerajaan yang terbaik ataupun seseorang yang cukup bagus untuk berdiri di tempat ini. Jejak langkahku bukan menciptakan emas. Aku seringkali dihukum dewa-dewi dari istana Akasa. Karena berlari dan tidak menghasilkan emas. Aku berlari karena itulah yang memanusiakan keberadaan ini. Pada hampir seluruh bagian cerita, tentu saja, aku bersikap sebagai layaknya aktor yang baik. Paling tidak, yah, kupakai terus topengku. Seperti yang diminta Bapak Produser.

Aku tidak menghasilkan emas. Aku bukan burung layang-layang atau ayam emas. Kukira tadinya aku bisa, karena begitulah orang-orang lain di panggung tersebut, mereka melangkah

tap tap

dan emas ada disana! ajaib!


"bukan, tidak ajaib." seringkali para dewa-dewi berkata demikian. Terlalu sering sampai kadang aku muntah-muntah berharap sedikit emas keluar dan para dewa-dewi senang. Tapi tidak, emas bukan dari muntah tapi langkah. Sekali lagi ucap sang dewa dewi.

maka kucoba,

tap tap

...
...
...
...



hei! mau kemana kalian!

Thursday, November 27, 2008

ternyata permukaan laut yang tenang dan indah itu bukanlah isinya; banyak arus dan ikan-ikan buas. Sementara aku hampir tercekik kekurangan oksigen disini.

walau pada awalnya terlihat keindahan surgawi yang terperangkap dalam bumi, pelan-pelan ia menghancurkanku.

namun aku tetap terbuai, mungkin aku akan berusaha ke permukaan untuk menangkap segelas udara sebagai bekal petualanganku ini

Friday, November 21, 2008

dongeng bingkai air dan rembulan

Aku hanya ingin bertutur; tahukah kamu bulan menghilang sebentar tadi siang karena muak disuruh terus-terusan memancarkan sinarnya olehku. bulan kok siang-siang bersinar, mana ada bulan seperti itu. iseng amat.

tahukah kamu aku membingkai air tadi siang saat sang rembulan berjalan-jalan berkeliling melepas penat. sudah sering aku membingkai air itu, kok tidak jadi-jadi ya? tapi apa boleh buat hanya bingkai air yang membuat bulan merasa senang.

tahukah kamu, semua ini konyol.
namun tetap berputar pada porosnya karena masih belum ada yang dapat mengalahkan keadaan natural itu; gravitasi rembulan menarik bingkai-bingkai airku.



--
dan sudah hampir fase yang keenam terlewati...
21 Nov 08 -- 9.43 PM

Saturday, November 15, 2008

yah...

kenapa tidak badai saja yang datang
mungkin aku dapat bertamasya dengan maut


--
10 nov 2008
pagi yang panjang dan melelahkan

Wednesday, October 29, 2008

yang bisu adalah kawan

Kadang aku muak akan kata; walaupun mereka bersemi di ujung sana. Sayangnya sekarang bukan lagi musim semi hingga sisa-sisakataitu harus kusimpan di bawah jendela. sayangnya aku muak pada mereka semua hingga sebaiknya kubuang saja semuanya ke sana, agar bersatu dengan para biskuit manis. Mudah-mudahan tumbuh menjadi lebih baik, yang penting jauh-jauh saja dulu.

Kadang aku muak pada kata; aku menghargai kamu yang tumbuh di musim dingin namun bukan kamu yang bermunculan dengan tiba-tiba lalu menghancurkan seluruh kebunku yang kubangun begitu saja dari rata tanah. Kadang aku benci komentar yang membuat semuanya runtuh termasuk pohon kata dan bunga ide yang mungkin sebaiknya kau biarkan saja mengembang hingga kebun kata lainnya terbentuk. Bahkan sangking muaknya kubuang saja kata favoritku, mungkin aku muak padamukarena kamu muak pada pohon kataku.

Biarkan dia bersemi, konyol! itu milikku, dan komentar gratis memang menarik tentu saja semua orang mengetahuinya. tapi bukan untukku, terutama untuk kamu yang menyerempet pohon kataku pada petang kemarin.


Kadang aku muak pada kata; seperti yang kulakukan sekarang.


29 oct 08 -- 10.05 PM
salam untuk dunia dari balik bantal

Thursday, September 25, 2008

sesaat

entah bagaimana
minyak itu ada
api itu disana

merah menjilati emas
pada setiap kesempatan terlepas

lalu aku akan mengeluh pajang
menutup mata dengan setitik abu
di sudut mataku

Sunday, August 17, 2008

lembar baru

parau itu sudah kubilas
isakan yang terakhir kusimpan di balik bantal

abu kubuang ke loteng atas agar bermain bersama debu
rindu kuderai lalu ditelan malam

fatamorgana khayal membawakan oase
dan disinilah aku menari bersamanya



--
berdasarkan kenangan seseorang

Tuesday, August 12, 2008

ritme emosi

aku terdiam
rasa kental
bagai foto terbakar
pun memamah coklat basi

aku terpaku
serat pekat
bagai menanam uang
pun membingkai air

aku fana
harapan khayal
andai saja mengerti...

Saturday, July 26, 2008

mungkin dan sebaiknya

kusembunyikan saja serpihan-serpihan ini dibalik jendela malam yang bersinar di balik tempat tidurku lalu kubagikan saja abu abu ini agar mereka semua dapat mencicipinya dan untuk menutup hari aku saja yang melompat dari pagar, lalu menjejak matahari yang terbenam itu

karena kamu tidak akan melihat bayangku lagi,
maka cepatlah lemparkan dunia ketiga yang terangkum dalam kitab itu kepadaku.

Wednesday, July 16, 2008

tentu tidak kan

tidak aku tidak pedih karna abu yang memekik itu kau ambil juga tidak karena abu itu memekik

tidak aku tidak menari karna tari mati terselubung itu lari dari balik jendela siang tadi

tidak aku tidak memintal benang merah namun bening sejernih bulir-bulir yang merambah wajah. Tentu saja mereka kuajak menari baru kupintal

aku tidak.tidak.tentu tidak.

untuk sahabatku dan sahabat sahabatku

sahabatku, bulir-bulir air yang khayal itu milikku janganlah kau sentuh

sahabatku, ribuan gunung yang diterpa mentari kuterjang dan aku sepi

sahabatku, janganlah kamu memamah pengorbanan apalagi menyiangi waktu untukku

sahabatku dan sahabat sahabatku, bulir-bulir air itu terjatuh dalam waktu dan bunyi abu memekik samar

sahabat sahabatku, berikan kembali abuku karna itu palsu yang asli sudah kusembunyikan di balik lantai petang

sahabat, aku menari dan salah lalu sendu

Tuesday, July 15, 2008

kata

ada rahasia;
di belakang rumahku adalah sebuah kebun kata tempat para lantunan bernaung

tumbuh tunas-tunas kata, mereka dipupuki oleh imaji serta mineral bidu hingga muncul dedaunan kata

ada rahasia;
di belakang rumahku adalah sebuah kebun kata yang menyiangiku

Friday, July 11, 2008

mereka

biru

aku menatap hamparan di ufuk timur
masa depan? melayang jingga dalam hati...
aku mencintai kamu yang menyatu dalam masa lalu
namun aku pun hidup dalam kenangan, kubiarkan rasa serta asa berkerak di dalam

untuk yang kesekian kalinya kuterima amarah serta lengkingan itu. aku menyatu, sepenanggungan, dalam kelompok amoral bernama satu. Hina hina hina! Apa aku ini makhluk jalang? Kesenjangan waktu menjadi ia yang dimuliakan

namun aku bertahan disini...

jingga

aku menatap pendaran warna yang memucat di tepi cermin
bayang-bayang mengerikan terlintas di dalam kepenatan, apakah aku ini? Khayal menatapku kembali, tajam. Aku benci khayal... karena aku berhayal dan salah.

Apakah salah apakah benar
Hakim mana? MANA!

putih

Mencintai adalah tujuan
Untuk kamu yang menghilang ditelan kelam, kutujukan cintaku. Cinta tujuan, tujuan cinta. Hendak kutemui kelam itu, namun ia terbang mengawang...

Mencintai adalah tujuan
Kutemukan kamu yang manis, membebat tanya serta khayal. Kamu itu nyata, kamu itu cinta. Cinta?

--
this is my new project, based on these real boys ; D
mari bersalaman bersama...

Tuesday, July 01, 2008

merindu

aku mau kamu
kukira romansa milenium akan datang
kutaruh kotak pesan itu dibawah hidungku

namun,
mungkin hanya aku saja yang bermain dalam drama ini

--
30 june 2008, pokoknya kalo pulang aku tampar huh

kamu

aku melintasi hamparan rumput
awan awan menggumpal, menyembunyikan matahari di balik haru biru
lantunan nada mengelilingi sedari tadi
...
Melankolis
...
Teringat kamu yang juga sedang bersembunyi di balik gumpalan biru

mungkin menemani matahari mungkin terlelap oleh nada yang sama

mungkin juga
menatap pergelangan yang sama...

--
29 june 2008, perjalanan panjang menuju laut

anak laut


aku
menari di bawah mentari
terbuai oleh birunya air
melantun bersama udara
berpijak akan pasir

terbang...

dan
bersyukur dalam biru

--
30 june 2008 - anyer, banten

abu untuk yang kesekian

abu itu serpihan

buku yang melayang menjadi abu dalam waktu

kenangan akan lampau yang berkumpul dengan cinta, asa, serta duka

abu membentuk manusia, bangsa, dan dunia

abu itu aku, kamu dan mereka

namun untuk alasan yang sama akan kusimpan abuku bagi diriku sendiri lalu kubiarkan milikmu melayang di atas permadani hijau itu

inilah abu milik ku, yang dibentuk dalam waktu...

--
29 june 2008

Wednesday, May 21, 2008

Untaian

Pada saatnya

Air terhenti
Waktu membeku
Awan meledak
Bumi terdiam

Aku hancur


Ini berakhir

Aku bergerak dalam ikatan ikiran mereka
Aku akan berhenti saat menguat
Inertia menghantamku; inertia kenangan
Melebur dalam waktu

Kamu lebur
Kan?


Dan

Tawa tawa tawa
Senyum senyum senyum
Kenapa kenapa kenapa

Ke nap a
T eta p
Sen du


Aku

Mungkin kerasnya batu disana
Tidak mengilhami
Mungkin kuatnya nurani
Tidak membantu
Mungkin memang
Pada waktunya

Abu terlalu teresensi
Terlalu kuat hingga pasrah


Mati

Sonet yang terhenti
Aku henti mati.


--
080408 - 5 yang terjalin