sahabatku
Di Tempat
Kadang kamu tidak mengerti yang kubicarakan. Kupikirkan. Kumaksud. Kulakukan.
Aku untuk ku sendiri.
Aku Bintang. Dia Matahari yang bersinar, sebelahku Bulan, setidaknya dia berguna pada malam hari untukmu. Aku Bintang. Bintang. Aku mengawang. Matahari harusnya sama sepertiku, sudahlah mungkin dia memang lebih dekat denganmu. Kita selalu mencoba bersinar, walaupun bukan Matahari atau Bulan, mungkin kita sesuatu yang lain. Atau kita berusaha untuk menjadi sesuatu yang lain?
Seperti doktrin slogan-slogan kuno yang mereka gembar-gemborkan untuk menjadi berbeda. Bagaimana menurutmu? Konyol, kita kan sudah berbeda dari sananya. Iya kan? Rasanya aku tidak pernah benar-benar mengerti sesuatu. Seakan alam semesta sudah keterlaluan luasnya. Atau karena aku sudah terpengaruh doktrin-doktrin itu? Seingatku mereka selalu ada di dekatmu, kawan. Menghimpit, kadang menyergap.
Mungkin kamu tak tahu, tapi aku selalu di sini.
Di langit.
Di tanah.
Di genggaman.
Di pundaknya.
Di kaki mereka.
Di sudut mata.
Dan yang terpenting aku ada di dalam benakmu. Aku membuatmu menjadi dirimu. Apa adanya, tanpa esensi artifisial sedikit pun.
Selamat bermain,
Bintang
--
8 Mei 2009
Dimaksudkan untuk menjadi entri FUR edisi Portrait
No comments:
Post a Comment